Nama huruf yang diucapkan saat menyebut lambang tidak otomatis memberi tahu bunyi yang diwakilinya di dalam kata. Dalam alfabet, lambang tulisan digunakan untuk mewakili fonem vokal dan konsonan. Karena itu, nama lambang dan bunyi yang ditandainya perlu dipahami sebagai dua hal berbeda [1]. ABC303 mengulas kaitan keduanya lewat bentuk ejaan dan unit bunyi yang diwakilinya.
Nama huruf dan fungsinya dalam ejaan
Ketika menyebut suatu huruf, kita sedang menyebut lambangnya. Ketika mengurai ejaan, pertanyaannya bergeser: fonem apa yang dinyatakan oleh lambang itu? Alfabet merupakan sistem tulisan yang menggunakan lambang fonem vokal dan konsonan [1]. Menyamakan nama huruf dengan bunyi dalam kata dapat mengaburkan perbedaan antara menyebut simbol dan menjelaskan bunyi yang ditandainya.
Satu fonem bisa ditulis dengan gabungan huruf
Hubungan antara lambang dan bunyi tidak selalu berupa satu huruf tanpa tanda untuk satu fonem. Dalam bahasa Indonesia, rangkaian "ng" merupakan dwihuruf untuk fonem [ŋ]. Dalam bahasa Spanyol, huruf N dengan tanda tilde, Ñ, digunakan untuk fonem [ɲ] [1]. Kedua contoh ini memperlihatkan bahwa sebuah fonem dapat ditulis dengan gabungan huruf atau huruf bertanda.
Memisahkan tiga hal saat mengurai kata
Untuk memahami susunan kata, bedakan bentuk lambang yang tampak, nama yang digunakan untuk menyebut huruf, dan fonem yang ditandai oleh ejaan. Contoh "ng" menunjukkan mengapa pembedaan itu berguna: dua huruf dapat bekerja sebagai satu dwihuruf yang mewakili [Å‹], bukan otomatis sebagai dua nama huruf [1].
Nama huruf hanyalah satu bagian dari hubungan antara tulisan dan bunyi. Saat membaca ejaan, perhatikan juga lambang mana yang bekerja bersama dan fonem apa yang diwakilinya. Dengan begitu, nama huruf tidak tertukar dengan bunyi yang membentuk kata.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Alfabet. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29940944&title=Alfabet (diakses 2026-10-02).